Separuh Jalan di Persimpangan

Pagi dini aku bangun, mencuci wajah dan mulai memanaskan mesin motor. Malam tadi seisi kepalaku terasa sesak dengan pikiran, pikiran yang lahir dari pertanyaan,”bagaimana biaya besok hari untuk perjalananku ke kandangan sedangkan sisa uang yang kupunya hanya cukup untuk memebeli separuh bensin dari Banjarmasin ke kandangan ?”. Aku lalu teringat kawan sekampung, Rudi, dan harapan bahwa  dia adalah jawaban dari pertanyaan itu muncul dengan sendirinya dari benakku. Tanpa pertimbangan yang panjang lebar ku datangi kosnya.

Aku tidak serta merta mengutarakan niatku untuk meminjam uang padanya, dengan sedikit upaya peleburan suasana dan pertanyaan-pertanyaan yang akhirnya ku kerucutkan pada ungkapan yang masih berbentuk pertanyaan, bahwa dapatkah dia menjadi solusi dari kegusaranku saat itu. Dengan isyarat kesetujuannya, maka seketika pula aku bisa berpikir tenang. Aku menginap di kosnya sebagai bentuk puncak dari peleburan suasana yang kulakukan. Setelah itu yang tersisa hanya persiapan kecil di pagi hari untuk keberangkatan ke Kandangan, keberangkatan yang akan memakan waktu dan tenaga cukup banyak.

Mesin motorku telah siap membawaku pulang ke kos. Kosku yang berantakan ini sangat menyedihkan jika dilihat dengan mata telanjang, kawan satu kosku adalah orang yang paling bertanggung jawab sebenarnya, tapi, aku selalu mendiamkannya, menunggu anugerah datang dan menjamah pikirannya untuk sadar akan perbuatannya, sebab dan akibatnya. Kulucuti seluruh pakaian dan dengan busana minim dari handuk aku beranjak ke kamar mandi. Aku mempersiapkan segala sesuatunya, dan berangkat ke Banjarbaru untuk menemui kawan-kawan yang juga akan menempuh perjalanan yang sama persis denganku.

Banjarbaru bukan tempat yang asing, karena sudah sering kulintasi, namun yang membuatku merasa asing adalah tempat dimana mereka menyatakan diri menungguku untuk sama-sama memulai perjalanan. Kumasuki pintu gerbang kampus Unlam disana dan mulai membuka celah bagi rasa bingung untuk  merong-rong isi kepala. Aku berputar-putar di jalan yang tersedia di dalam gerbang itu, menyapu pandangan kesemua penjuru, tak terkecuali segala sesuatu yang padanya aksara menempel. Kupikir, siapa tahu disana ada petunjuk bagiku. Sampai pada akhirnya, ternyata petunjuk itu ada pada diriku sendiri. Pesan singkat di handphone yang menyebutkan dengan jelas dimana tempat mereka berada. Uh, ternyata kebingungan dan upayaku untuk mengusir kebingungan tersebut telah membawaku cukup jauh dari tempat yang kucari.

Disamping tempat itu ada warung makan. Kebetulan aku belum sarapan pagi. Aku makan nasi rawon dan teh, keduanya sama-sama hangat. Begitu nikmat ketika disandingkan dengan tempat yang rindang. Ya, Banjarbaru adalah tempat yang rindang dan nyaman. Pohon-pohon besar masih dihargai kehidupannya. Sekelompok perempuan paruh baya menghampiri warung tempatku makan, mereka pekerja kebersihan yang setiap pagi menyapu jalan raya disekitar kampus, seragamnya yang berwarna orange itu seperti mengisyaratkan padaku bahwa mereka adalah orang-orang kecil yang mencari mata pencaharian hanya dengan menjual jasa, jasa kebersihan. Serta lambang keteguhan bagi seorang perempuan yang bertarung edngan dunia. Nampaknya mereka juga belum sarapan pagi, keringat mereka seperti mutiara ketika cahaya matahari memancar ke wajah para perempuan itu. Mereka hanya mencari gorengan. Acara sarapan pagiku telah usai dengan dibarengi kedatangan satu lagi kawan yang ku nobatkan sebagai manusia tertua dalam kelompok perjalanan ini, Bang Arsyad, setibanya dia langsung menyodorkanku kertas yang beberapa pekan ini telah banyak kupandangi dan kuanggap sebagai pisau yang bakal menusuk leherku sendiri jika aku tidak menggunakannya dengan baik. Surat menyurat.

Setelah kawan yang memohonkan dirinya untuk packing ke kosnya datang, Indra, dan kami juga mulai merasa jenuh menunggu, perjalanan dimulai. Menyusuri jalan raya kota Banjarbaru dengan situasi yang segar, aku dan kawan yang baru bangun tidur itu yang juga satu motor denganku, Bahrani, mulai berdiskusi kecil-kecilan, mulai dari tanaman sampai pemerintahan. Aku melihat kaca spion dan tidak menemukan gambar motor kawan yang tadi memohonkan diri untuk packing disana, aku tidak menemukan gambar motor Indra. Ternyata mereka mengisi bahan bakar, sambil tertawa-tawa mereka menceritakan pengejaran mereka dengan gadis yang sebenarnya mereka sendiripun tidak tahu seberapa cantiknya.

Situasi yang tadinya kurasakan segar tidak bertahan lama, karena rasa penat untuk duduk mulai menyerang bagian tubuh yang menopangku untuk duduk, hampir sampai di kota Rantau aku mencari tempat untuk beristirahat sejenak, menghilangkan rasa penat sambil mencoba sedikit menghindar dari matahari yang sudah terasa menyengat. Kami beristirahat sejenak di pinggir jembatan, berdekatan dengan sungai, melakukan peregangan dan memulai lagi untuk berdiskusi, bercanda dan tertawa.

Setelah meghabiskan satu batang rokok, pertanda bahwa waktu yang kami gunakan sudah cukup lama, maka perjalanan berlanjut, sambil menikmati angin yang diterpa, pemandangan yang menguras emosi menampakkan wujudnya di kanan dan di kiri kami. Ibu pertiwi di perkosa dan dihisap sari pati tubuhnya. Tambang batu bara, terlihat malu-malu mengintip kami dari jauh. Satu dua tempat yang kami lihat sudah cukup membuat kami merasa tidak berdaya. Anak bangsa yang seharusnya menjadi ujung tombak, gong ternyaring, dan pasak terkuat bagi buminya tidak bisa berbuat apa-apa melihat tumpah darahnya di obrak abrik. Pemimpin di wilayah inilah yang seharusnya bertanggung jawab sepenuhnya terhadap apa yang terjadi, namun, pemimpin  hanya mempunyai tempat duduk yang cukup tinggi dari yang lain tapi kekuatannya tidaklah setinggi kedudukannya jika telah berhadapan dengan deretan protozoa dan peternaknya, yaitu modal dan si pemilik modal. Dan pemerkosa ibu pertiwi adalah anaknya sendiri yang telah menumpuk modal, sedangkan kami hanya mungkin belum atau hanya dapat berteriak tanpa suara atau memarjinalkan diri sendiri dan menjauh dari busuknya tempat yang diisi oleh orang-orang busuk itu. Maafkan kami ibu pertiwi, kami kecil dan lemah.

Sesampainya di kandangan,  kami memberhentikan diri di taman kota, taman yang dianugerahkan sebagai kenangan pada divisi lambung mngkurat, sebuah kelompok bela tanah air, militer, dibentuk beberapa puluh tahun lalu oleh Brigjend. H. Hasan Basri pimpinan gerilyawan Kalimantan, pejuang melawan belanda. Kakekku juga pernah menceritakan tentang divisi lambung mangkurat yang dipimpin langsung oleh Hasan Basri dan juga dibubarkan langsung oleh Hasan Basri. Beliau pejuang yang dikenal sebagai pejuang yang cedik dan berani. Dan beliaulah yang memiliki hubungan dengan soekarno pada saat itu sehingga Kalimantan diperjuangkan sebagai bagian dari NKRI. Taman itu, taman yang rumputnya tidak bisa dikonservasi, karena setiap sore warga setempat bermain sepak bola di sana.

Sejenak bersandar diri di taman membuat mata kami hampir terlelap dan melupakan niatan ke kantor Bupati. Lalu, ku cuci wajah dan menyalakan mesin motor, kantor bupati tidak jauh dari taman kota, jaraknya hanya beberapa puluh meter. Kami kesana dengan membawa beban yang cukup berat, beban itu bernama spekulasi. Dan spekulasi bukan senjata yang tepat, kami tidak berhasil menemuinya. Kegagalan petama bukanlah sesuatu yang harus dipermasalahkan, karena kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Tujuan selanjutnya rumah seorang perempuan yang menurutku namanya mirip laki-laki, Ruli.

Dari rumah Ruli, kami melanjutkan perjalanan, dan kali ini tujuannya rumah Kakek Bang Arsyad, untuk beristirahat sejenak, atau mungkin untuk beberapa hari ini, beberapa hari yang akan dilintasi di Kandangan untuk menyelesaikan tuntutan dari organisasi. Desa baru atau biasa orang menyebutkan identitasnya secara umum sebagai Batang kulur, tidak seberapa jauh dari rumah Ruli, Desa Asam. Tidak banyak yang kami lakukan setelah sampai disana, aku benar-benar ingin mengistirahatkan si tubuh ini dalam peraduan apapun wujudnya, sudah terasa tidak berbentuk lagi sekujur batang tubuhku ini setelah menempuh hampir seratus tigapuluhan kilo meter jalan. Hanya berbaring, mata tidak bersahabat untuk benar-benar beristirahat secara penuh.

Malam harinya aku berbincang-bincang dengan Kakeknya Bang Arsyad tentang perekonomian masyarakat Negara, kota lain yang satu kabupaten dengan Kandangan, kota yang kini menjadi tempat keluarga kecilku berdomisili, kami berbincang tentang komoditas bercocok tanam masyarakat Negara sampai pada keterbukaan masyarakat Negara terhadap kemajuan tekhnologi. Beliau menyatakan bahwa pabrik-pabrik mesin lebih dulu ada di Negara. Dan menurutku masyarakat di Negara memang pada dulunya seperti itu, dan bahkan tidak sedikit anak-anak daerah tersebut yang berpendidikan sampai ke luar negri. Meskipun beberapa rumor yang berkembang secara negatif  juga telah banyak di konsumsi oleh masyarakat kota lain, bisa kusebut sebagai stereotype.

Malam sudah larut, aku dan yang lainnya menaiki ranjang peristirahatan di kamar pertama. Semula Bang Arsyad berniat menonton film, oleh Indra niatan tersebut disambut secara apresiatif, Indra yang paling progresif untuk memepersiapkan segala sesuatunya, mulai dari Laptop sampai penyusunan tempat. Usaha Indra bertepuk sebelah tangan, hanya Indra yang masih bertahan di tengah derasnya arus waktu aksiomatik untuk melelapkan diri dalam tidur.

Sang fajar manyingsing, ayam bernyanyi dengan nadanya sendiri, dan suara-suara kehidupan mulai terdengar olehku, Indra telah bersama kami di atas ranjang, menjejalkan dirinya di tengah aku dan Bahrani, kapan dia beranjak naik, dan kapan dia tidur aku tidak tahu pasti, namun yang pasti pagi itu aku melihat rasa kecewanya Indra terhadap Bang Arsyad yang hanya kuat di niat. Suasana malas dan ketidak enakan hati bercampur baur di dalam kamar yang kami tempati. Malas untuk beranjak dari peraduan, dan tidak enak hati jika bangun kesiangan di rumah orang.

Aku menyisiri ruangan di dalam rumah Kakek Bang Arsyad sampai menemukan Neneknya memasak, kusapa beliau, lalau kuteruskan penyisiranku sampai ke tempat pemandian. Sambil menikmati lamunan di pagi hari di pintu dapur, suara Bang Arsyad menjerit terdengar nyaring dan menggema, karena letak pemandian itu di bibir hutan di belakang rumah. “Aaaaaaaaakkkhhhhh, baaah, ini lagi”. Aku malas memecahkan rasa penasaranku akan teriakannya, lantas kembali kulanjutkan lamunku dengan sedikit menekan rasa penasaran.

Waktu yang tepat untuk bertanya, karena Bang Arsyad telah usai Mandi, ku tanyakan “ Kenapa berteriak Bang ?” dia jawab “Penyakit bintitan di mataku ini datang lagi.” Rupanya bintit itu sering datang padanya, dan niatanku untuk tertawa ku tahan dengan perasaan kasihan, tapi, tawa itu keluar dengan sendirinya dari goa mulutku, lumayan untuk memecah kekakuan di pagi hari. Seusai mandi kami memepersiapkan diri untuk pergi bertemu Bupati serta bertandang ke Haratai, salah satu desa di kecamatan Loksado. Desa terpencil di atas pegunungan Meratus.

Aku telah siap dengan atribut yang kukenakan kemaren, begitupun dengan Indra, Bahrani dan Bang Arsyad. Sebelum menemui Bupati, kami menemui Mita dan Ruli, mereka juga ikut dalam pertandangan kali ini. Tiga buah motor, enam orang, empat laki-laki dan dua perempuan. Meluncur ke rumah Bupati pagi hari, Satpol PP menyambut kami di depan pagar. “Bapak Bupatinya ada Pak ?” Bang Arsyad dengan gagahnya bertanya pada Satpol PP. “Bapak Bupati subuh tadi sudah pergi ke Banjarmasin Dek”, satpol PP itu menyahut. Sekali lagi kami gagal, dan kegagalan ini bukan hal yang besar bagi kami hari ini, karena masih ada tujuan lain yang hendak di capai selain bertemu dengan Bupati. Setelah berbasa basi dan ucapan terimakasih, kami beranjak dari rumah dinas Bupati untuk langsung mengarah ke Loksado.

Tidak terukur besarnya semut, karena terlalu kecil dan tidak beberapa jauh dari tempat kami beranjak hujan mengguyur kota Kandangan. Aku ajak yang lainnya singgah di bawah atap warung makan, warung makan yang mungkin hanya malam hari buka. Kami berbincang tentang arah jalan ke Loksado, dan ternyata tidak ada satupun dari kami yang tahu. Ruli, orang Kandangan sendiripun juga tidak tahu, dan membedaki ketidak tahuannya dengan berkata “Aku tidak ingat dan takut salah karena ketidak ingatanku”. Semua ini membuat kepalaku manja akan garukan.

Hujan reda, dan tidak jauh dari tempat kami berteduh ada tempat pengisian bahan bakar. Kami ke tempat itu untuk mengisi bensin. Sekali lagi Bang Arsyad bertanya, kepada penjual minyak itu dia bertanya jalan menuju loksado. Seusai mengisi bensin, Bang Arsyad kutunjuk sebagai petunjuk jalan, karena dia telah mendapat jawaban dari penjual minyak tadi. Sesuai rencana yang baru saja dibuat itu, Indra memimpin perjalanan, karena sang petunjuk jalan ada bersamanya.

Tidak begitu jauh, namun sudah memasuki wilayah perbukitan, aku melihat makam pahlawan yang letaknya di atas gunung kecil, ku labuhkan motor ke sisi jalan itu dan menaiki anak tangganya. Kami berfoto-foto disana. Bang Arsyad berfoto dengan gaya yang tidak biasa. Dia hanya menampilkan wajahnya dari sisi kanan saja ke lensa kamera. Ternyata dia menutupi bintitan di mata kirinya, tekhnik yang bagus, mungkin dia bisa mengelabui kamera, tapi tidak dengan kami. Perjalanan berlanjut, awan hitam terlihat dari barat, rasa khawatir dari Bang Arsyad dia nampakkan kepada kami dengan berucap,”cepat kita lanjut, jangan-jangan kita kehujanan di jalan.”

Sudah tak terhitung jumlahnya kami menaiki tanjakan, berbanding lurus dengan turunan. Tikungan yang tajam serta ancaman yang selalu mengintai dari balik tikungan itu senantiasa terbersit di dalam pikiran. Jalan di sana cukup sempit, juga cukup untuk sebuah truk besar menambrak motor kecil yang berlawanan lintas. Setiap tikungan yang terlipat, dan lipatan sebelahnya tidak dapat di tembus oleh mata, aku harus memerintahkan tangnku untuk meremas rem dan memutar kendor tali gas. Terkadang bila jalanan yang ada dihadapan itu lurus, aku bisa menikmati indahnya pemandangan pegunungan, terbing, dan indahnya tarian pohon-pohon diatas sana yang menyejukkan pandangan. Inilah Kalimantan, pulau indah yang menyimpan berjuta kekayaan alam di dalam dan luar perutnya.

Sepertiga jalan, air langit kembali mengalir ke wajah dan ke tubuh kami. Awan hitam dari barat yang tadinya terlihat jauh, tidak teramalkan bakal bersinggah tepat diatas ubun-ubun kami. Di tengah jalan hutan yang di setiap sirip jalannya terlihat pohon-pohon bertumbuhan, dari tempat kami memandang sampai kemampuan memandang terbatas oleh sebuah bangunan, barulah kami akan merasa tenang barang sejenak, karena semua tempat di tengah hutan dan hujan ini akan berkesempatan menjadi tempat menghindarkan diri dari tusukan-tusukan hujan.

Turun dari tanjakan yang entah keberapa, dari atas aku melihat sebuah pos yang dalam pikiranku adalah tempat yang tepat untuk berteduh. Pos reribusi untuk pengunjung tempat wisata, kemungkinan disiapkan untuk pengunjung Loksado yang menggunakan transportasi besar. Kupasang kaki motor, dan mulai mancicipi pos tersebut. Kami tidak berdiam diri saja di pos tersebut, kami sibuk mengisi pos tersebut dengan suara tawa, ya, tawa yang lahir dari rahim kelakuan Indra yang menahan diri untuk buang air besar, karena tidak menemukan tempat yang tepat. Kami berada di samping jurang dan di pinggir jalan umum.

Ketika kami melihat air hujan mulai memuda, mulai kembali menjadi seperti anak kecil, menjadi jinak dan tak lagi menampakkan keganasan, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Naik turun dan lipatan jalanan tetap kami cicipi, gerimis masih jua terasa. Kami hanya tinggal mengikuti jalanan umum, sejauh beberapa tanjakan dan turunan yang dirasakan setelah kami berteduh, tidak ada simpangan yang akan membuat kepala menyalakan tanda bingung untuk memilih, karena Petunjuk jalan, Bang Arsyad, telah jauh hari bertanya pada orang-orang yang ada di kampung Kakeknya.

Hampir habis aku memutar tali gas di stang kanan motor ketika tanjakan, begitu menjulang bagi motorku, kulihat jarum impare menunjukkan ke angka dua puluh, serasa menaiki sepeda unta di jalan lurus. Sesekali aku menatap spion, kadang jauh kadang dekat sinar lampu motor kawan perempuan itu. Sudah beberapa persimpangan yang terlalui, dan setelah itu aku juga sudah tahu kemana menuju jika bertemu lagi dengan persimpangan, ku dahului petunjuk jalan, hingga sampai pada penghabisan jalan, jembatan tali yang putus. Aku turun dan mematikan mesin motor untuk bertanya kepada seorang laki-laki paruh baya yang kebetulan ada, kemana jalan menuju Haratai. Rupanya di sirip jalan ada turunan menuju perkampungan. Ke sana kami harus turun dan akan mencoba meraba manusia yang bisa mengobati ketidak tahuan kami akan jalan menuju Haratai yang pasti. Laki-laki paruh baya tadi itu tidak benar-benar menunjukkan kemana jalan yang sempurna, hanya beberapa. Rupanya ada tempat umum yang bisa dijadikan persinggahan sementara di depan perkampungan tersebut, terdapat wc umum disana, kamar mandi, dan anak tangga menuju sungai yang di penuhi batu-batu yang besarnya variatif, dan aliran airnya deras terlihat.

Indra yang telah lama menahan buang air besar, akhirnya di tempat itu dia bisa kembali menghirup udara segar dengan wajar, tidak berapa lama dia masuk ke kamar kecil, begitu pula dengan Bahrani. Aku menuruni anak tangga menuju sungai itu dan mulai merasakan derasnya arus di kulit kakiku, ku cicipi batu-batu sungai itu dengan telapak kakiku, ku cicipi pula air disitu dengan tenggorokanku. Segar, dingin. Sedang Bang Arsyad menelusuri manusia mana yang dapat menjadi peta di sana menuju Haratai, dia nampak berbincang dengan seorang warga kampung sembari menulis-nulis sesuatu, mungkin peta jalan. Kupikir ini tidak akan bertahan lama, kami harus melanjutkan perjalanan, kupejamkan mata dan mulai mencicipi suara arus dari sungai itu dengan telinga, begitu damai.

Aku memancing Bang Arsyad untuk memutar ulang suara dari orang yang tadi berbincang dengannya,”Kemana arah setelah ini Bang ?” kataku,”sehabis melewati pasar, ada jembatan di sebelah kiri, setelah jembatan itu jika ada berapapun simpangan kita ambil kanan, desa Haratai berada di belakang empat buah jembatan yang akan kita lewati sebelumnya.” Jawab Bang Arsyad dengan gaya kalem. Tanpa berpikir panjang kami melanjutkan perjalanan, rasanya aku sudah mulai mencium bau haratai dari tempat persinggahan itu.

Lewat jembatan sebelah kiri jalan setelah melewati pasar, aku melihat mushola, setelah mushola itu tidak jauh berdiri pula gereja. Rupanya desa yang kami lewati itu belum benar-benar jauh terpelosok, warga disini sudah banyak mengenal agama, dan meski dengan perbedaan agama serta kontrasnya simbol yang menurutku sangat terasa, mereka bisa hidup secara rukun, terlihat dari terjaganya simbol-simbol besar itu sendiri. Anjing-anjing kecil berkeliaran di jalan, anak-anak bermain di tanah lapang, mereka hanya jauh dari central peradaban yang dipaksakan besar dan diikuti oleh semua bangsa, namun, mereka punya peradabannya sendiri.

Jalanan yang sedang di lalui itu penuh dengan bebatuan yang menempel di atas tanah berbukit, kali ini tanjakan yang kurasakan sangat curam. Berulang kali motorku seakan memanja, dia maju mundur dalam tugasnya mendaki tanjakan. Sesekali Bahrani turun dari motorku ketika tanjakan yang hampir bersudut delapan puluh derajat dari tanah datar. Sedang Indra yang mengangkut Bang Arsyad juga terlihat sepertiku, begitu pula dengan Mita dan Ruli. Sampai pada tanjakan yang di atasnya berdiri kokoh batu gunung yang besar badannya seperti anak gajah, aku melirik ban depan motorku, karena dari tadi ada rasa yang tidak biasa berasal dari ban depan, ternyata ban depan motorku kempes. Satu, dua, tiga kali kuteliti dengan pandangan nyata benar ban itu kempes. Aku turun dari motor, dan sekali lagi hendak memastikan bahwa memang penglihatanku tidak salah. Indra bertanya,”Kenapa di ?”.”Ban depanku kempes ndra.” Jawabku. Dari tempatku berhenti, ada rumah yang Nampak bersahabat kali ini. Melihat peristiwa yang menimpaku, Bang Arsyad lantas mencoba bertanya tentang tambal ban, atau kompa ban pada tuan rumah itu yang sedang berdiam diri di teras rumahnya, seorang tua yang tampak tegar.

Aku menunggu hasil dari usaha Bang Arsyad sambil memikirkan kapan dan dimana ban depanku itu kempes, “sudah lama atau baru saja ?” aku membatin. Tak ada yang tahu. Kulihat Bang Arsyad masih berbincang dengan pak tua itu, batu sebesar apa yang menghalangi arus Bang Arsyad disana aku jadi penasaran. Kudekati, dan mulai memasang telinga dan tangan untuk mendengar dan menangkap apa yang sedang marak mereka bicarakan.

Pak tua itu ternyata mencoba memberikan gambaran bagaimana cara agar mengadakan acara di daerah adat Dayak di Haratai, gaya bahasa pak tua itupun terdengar resmi, sangat formal. Kukira aku bakal sulit menangkap esensi pembicaraan beliau ketika jasadku jauh dari beliau, ternyata sama halnya seperti biasa. Pak tua itu mengunakan bahasa Nasional dengan rethorika yang terasa berat. “Kalian adalah para penerus pejuang bangsa nak”. Suara beliau menusuk. Aku mulai menggali lubang kuburan konsentrasiku pada setiap jengkal luas kata-katanya. Sambil sesekali orang tua itu memutar-mutar pembicaraannya, dari awal kembaili ke awal. Dan luas ladang kata-katanya bertambah, orang tua itu menggeser patok ladangnya semakin luas dan luas. Pembahasan yang orang tua itu lontarkan dari mulut tuanya semakin lebar. Kali ini orang tua itu berbicara tentang pemerintahan, tentang kepemimpinan Soekarno dan pengkhianatan Soekarno terhadap negerinya. Aku semakin tenggelam dalam kekaguman dan status quo yang non relevan dengan maksud awal dari perbincangan itu.

Sejenak ku keluar dari kuburan yang tadi kugali dari ladang kata-kata orang tua itu dan mulai memberikan penilaian dengan standar pengetahuan yang sedikit kumiliki. Orang tua itu pejuang bangsa, paling tidak dulunya orang tua itu adalah salah satu pasukan ALRI divisi IV yang dipimpin oleh Hasan Basri, kelompok militer yang pernah berdiri di bumi lambung mangkurat ini, atau mungkin orang tua itu adalah mahasiswa dulunya, atau entahlah aku semakin larut dengan pemikiranku sendiri. Dan rupanya orang tua itu tidak mampu menyandang rahasia siapa dirinya, sehingga dia berbicara seolah dia satu-satunya saksi yang paling tahu tentang sejarah pemerintahan di Indonesia dan pemerintah sekarang. “Saya Angkatan Darat dulunya” orang tua itu membuka topengnya. Aku jadi skeptis. Angkatan darat memang di doktrin untuk setia pada pemerintah, pancasila, dan NKRI, dengan didikan dan ajaran dari Soeharto.

Orang tua itu membuktikan jiwa pancasilaisnya dengan manipestasi bahwa dia menolak pemikiran soekarno yang hendak menjadikan rakyat Indonesia sebagai ummat Islam secara keseluruhan dan Negara Indonesia sebagai Negara Komunis. “Dasar Negara kita kan Pancasila, untuk apa menjadikan rakyat Indonesia sebagai ummat Islam secara keseluruhan ? itu sama saja dengan mengkhianati anak Bangsa” cetusnya di hadapan kami.  “meskipun Soekarno juga yang memeperjuangkan kemerdekaan Bangsa ini”. Orang tua itu nampak memebuburi gula untuk kalimat sebelumnya. “Agama saya Kristen protestan” orang tua itu seakan hendak menelanjangi semua tentang dirinya pada kami. “Pantas dia tidak sepakat dengan upaya yang diasumsikannya datang dari soekarno itu, atau malah kupikir itu adalah propaganda yang disebarkan pada orang-orang Angkatan Darat pada waktu itu untuk tidak memihak terhadap Soekarno”. Aku membatin.

Kami hanya diam ketika orang tua itu menyatakan bahwa “kalian pasti tidak tahu peristiwa G30S PKI.” Kultur kami anak-anak Banjar selalu menghargai pendapat orang-orang tua diluar dunia akademis, dan diam serta mengangguk adalah salah satu bentuk peleburan suasana untuk tidak menyinggung perasaan. Aku membatin “apakah orang tua ini juga kenal dengan Semaoen, Aidit, Njoto, Sjam ?”. “Apakah orang tua ini juga kenal dengan Bapak Bangsa yang pantas menjadi pengganti Soekarno, Tan Malaka, yang terbunuh oleh senapan-senapan kelompok orang tua ini ?”. Entahlah. Haratai masih satu kilometer dari kediaman orang tua tadi, aku menggiring motorku, dan yang lain juga jalan kaki.

Tanjakan yang dilalui cukup menulang dan berbadan yang hampir ambruk terkikis erosi. Di persimpangan tiga penjuru, Haratai satu memeperkenalkan dirinya dan serta manampilkan batang hidungnya di atas sepotong papan yang berdiri renta di simpangan petama, simpang sebelah kanan dari jalan kami datang. Tubuh yang memanas memebakar waktu, tidak terasa aroma haratai sudah sangat tajam tercium, dari kejauhan di balik tanjakan ada gerbang desa Haratai, desa yang mandiri energi.

Di punggung gerbang itu ku singgahkan diri sambil menghela nafas panjang, sudah lama aku tidak beraktivitas berat, naik gunung sangat menguras kalori. Nampak seorang tua, perempuan berbaju seragam petani yang biasanya berangkat ke sawah berdiri di depan teras rumahnya, rumah masyarakat disana cukup tinggi, seperti rumah panggung. Kedatangan kami disambut dengan senyum dari perempuan tua itu, sontak saja keadaanku membuat otakku sempit pertimbangan, spontan kutanyakan tentang tukang tambal ban kepadanya dengan bahasa banjar, dan ternyata satu lagi pasak yang memperkuat keyakinanku bahwa di desa ini tidak ada tukang tambal ban. Sambil melempar senyum padanya, pertanyaan lagi yang keluar dari mulutku,”Rumah Kepala Desa sini dimana cil ?”.”Di sebelah rumah besar itu”, sambil menunjuk ke arah yang lebih dalam dari jalan yang telah kami lalui. “nah, itu dia kepala desanya”. Sekali lagi perempuan tua itu mengangkat telunjuknya, mengarah pada seorang laki-laki tegap yang di pinggangnya tertancap parang. “Oh, terimakasih cil”, kataku pada perempuan tua itu.

Tampak olehku Bang Arsyad menghampiri laki-laki yang tadi ditunjuk oleh perempuan tua sekaligus orang Haratai pertama yang menjadi lawan bicaraku di Desa ini. Asumsiku bermain riang di dalam pikiran ketika Bang Arsyad mulai membuka perbincangan dengan laki-laki itu. “Jangan-jangan Bang Arsyad akan bertanya rumah kepala desa pada kepala desa itu”. Asumsi yang harus diuji kebenarannya, seketika saja aku menghampiri mereka, dan tanpa basa basi, kunyatakan pada Bang Arsyad bahwa laki-laki yang ada di hadapan Bang Arsyad itu adalah kepala desa di sini. “Benar pak ?”, Bang Arsyad meyakinkan dirinya dengan bertanya pada laki-laki itu. “Iya”. Jawabnya. Kujabati tangan Kepala Desa, dan kami langsung diajak ke rumahnya untuk bicara lebih serius.

Kami dipersilakan masuk dan duduk,”Saya sendiri disini, ini rumah peninggalan orang tua”. Kepala Desa itu memecah kekakuan. Kami mulai bercerita tentang perjalanan kami hingga sampai ke Haratai, sampai pada cerita tentang ban motorku yang bocor.”Di sebelah rumah ini ada yang jual ban dalam, tapi perkakas untuk memeperbaiki kalian punya tidak ?” sambil menunjuk ke sebelah rumahnya. “Tidak ada pak” sahutku. Setelah itu kami mengutarakan maksud kedatangan kami ke Haratai. Bang Arsyad yang memulai bicara,”Kami berencana mengadakan pelatihan menulis untuk warga disini pak, dan kami hendak meminta pendapat bapak tentang kebutuhan warga disini !” sambil sedikit menekan nada bicaranya, Bang Arsyad memaksa Kepala Desa itu angkat bicara untuk menggambarkan kondisi masyarakat yang dipimpinnya, dan kondisi wilayah yang menjadi tanggungjawabnya. “Kebutuhan masyarakat sini adalah perbaikan akses jalan, kawasan ini direncanakan oleh pemerintah menjadi kawasan hutan lindung, sehingga warga disini resah, bagaimana beraktivitas kedepannya, kemudian perhatian yang sedikit dari pemerintah daerah, padahal disini ada obyek wisata air terjun. Kalau kalian mau mengadakan acara disini, harap maklum, karena warga disini masih banyak yang menganut agama kaharingan”. Lalu Kepala Desa itu mememperkenalkan dirinya setelah sekian banyak kalimat yang terlontar dari mulutnya,”nama saya Syukran”.

Dari luar rumah terlihat perempuan yang membawa sebuah beskom kecil, dia menyodorkannnya kepada kami untuk menjadi jamuan bagi kami. Pisang dua tundun. Sambil menikmati pisang jamuan itu kami tetap mendengarkan kalimat demi kalimat yang keluar dari mulut Pak Syukran. Rupanya Kepala Desa disini bukan orang sembarangan, dia cerdas, kritis, dan berwawasan luas. Dia memikul rahasia yang besar dan berskala panjang.”Saya tidak menceritakan kepada warga desa sini kalau bunga angrek jenis yang hanya ada disini itu mahal jika dijual, karena, jika diceritakan anggrek disini bakal habis, saya tidak ingin anak cucu tidak dapat menikmati di masa yang akan datang”. Kata Pak Syukran. Dia juga berbicara tentang kinerja pemerintah yang hanya bisa berbicara dan realisasi dari apa yang pemerintah bicarakan hampir-hampir tidak ada untuk Desa Haratai, janji tentang perbaikan akses jalan. Tidak jarang ketika ada pertemuan untuk koordinasi di tingkat kecamatan Pak Syukranlah Kepala Desa yang paling vokal dan berani. Dinas kehutanan yang coba-coba bermain dengan proyek-proyek fiktif tidak akan pernah Pak Syukran biarkan, selama dia menjabat sebagai Kepala Desa. Pengadaan listrik yang alot dari pemerintah daerah bisa diatasinya dengan langsung berhubungan dengan pemerintah pusat, dia punya teman disana. Aku semakin tercengang, ternyata istrinya berasal dari kota Jokjakarta. Ternyata Pak Syukran lama melanglang buana di luar desanya. Pantas saja aku merasakan keluasan pandangan dan kematangan berpikir dari Kepala Desa itu, rupanya dia telah ditempa oleh palu keadaan dan zaman. Diamku kali itu adalah sebuah kekaguman.

Seusai perbincangan sebagai salam perkenalan, aku ke sebelah untuk menanyakan ban dalam motor mio. Di desa sini tidak terlihat manusia yang memakai motor mio, mungkin karena mio tidak cocok untuk daerah pegunungan. Kupikir sesuai dengan permintaan, penjual ban dalam itupun tidak akan menjual ban dalam yang tidak tenar. Diluar dugaan, stok barangnya ada satu, itupun kata si penjual adalah ban dalam hasil salah beli. Kesalahan dari penjual ban dalam tersebut adalah anugerah bagiku saat itu. Indra yang bertindak selaku montir, sesekali Kepala Desa membantu, sesekali juga si paman penjual ban dalam ikut-ikutan meniru pemimpin desanya itu.

Ban motorku sudah siap pakai, bang arsyad, mita, dan ruli telah terlebih dahulu bertandang menuju air terjun ketika kami tengah tersibukkan dengan usaha mengganti ban dalam motorku. Aku, indra, dan bahrani mengambil barang-barang yang tadinya kami letakkan di rumah kepala desa. Menyusul ke air terjun. Waktu yang ditempuh menuju air terjun itu rupanya tidak sedikit, semula jalanan di sekitar rumah warga dpat dijelajahi dengan motor, ternyata setelah rumah warga itu telah cukup jauh ditinggalkan kami terpaksa jalan kaki dan memarkirkan motor di tempat parker yang disediakan oleh PNPM.

Lama tidak berjalan kaki membuat jantung berpacu tidak stabil dan stamina tubuh terasa letih, apalagi ditambah dengan kondisi jalan yang mendaki dan menurun secara fluktuatif. Salah melangkah nyawa melayang, jalanan yang licin dan jurang di samping jalan yang hanya berjarak setengah meter itu menuntut kehati-hatian dalam melangkah. Sampai pada akhirnya kami berada di depan wajah air terjun tersebut. Air terjun desa haratai. Aku terkesima sekaligus terkejut. Rupanya ada keindahan yang belum ku tahu di bumi kelahiranku ini. Sepertinya perasaan senang campur dongkol mengharu biru dalam hati. Sambil memejamkan mata malu-malu kuhirup udara segar di pinggiran air terjun. Aku Bergumam “Inikah hadiah untuk sebuah perjalanan yang menguras tenaga dan pikiran ?”, gemercik air yang terdengar seakan tegas menjawab “iya”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s