Kilas Balik

31 Juli 2011, 01.20 wita.

Kau dan aku berbicara. Tanpa kata. Tanpa suara ketika malam yang sunyi menyelimuti kota Banjarmasin. Ketika angan seakan nyata. Bagiku.

Apakah akan pecah batu yang tak pernah tersentuh air. Bertahun-tahun bercumbu dengan terik matahari. Bergulat dengan rasa nista. Untuk kekasihku yang kini jasadnya tak lagi dapat ku pandangi, aku menceritakan kemelut rasa yang biru ini padamu, maaf, hanya untuk menenangkan hati.

Ketika sampul tali yang kecil itu terlepas, ku kira hanyalah buah dari akar pemahaman kita saja terhadap situasi yang saling berbeda antara kita, bukan hanya tentang aku dan dirimu, tapi tentang ruang dan waktu yang berbeda. Bisuku kala itu hanya untuk membuka ruang bagi kita agar satu sama lain dapat saling memikirkan kembali apa yang telah terlalui. Bukan ketika bersama, tapi ketika cita-citaku yang menurutmu adalah penghambat cintamu.

Apalah boleh dikata, maksud hati memang selalu berbenturan dengan kenyataan dan pikiranmu. Kau tak kunjung memikirkannya, lebih jauh kau membuka pintu hati untuk yang lain, hanya untuk mengisi kekosongan yang kau kira kosong, namun dulu kupikir masih tertutup. Kutulis ini ketika hari baru saja berganti, namun gundah di hati membeku tak berganti dengan ketenangan. Hanya ini. Terimakasih untuk waktumu bila kau sudi membacanya.

Sekali lagi terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s