Memoar Sukma

Tanda mata kongkrit dari Kebangkitan dan perkembangan pola pikir manusia adalah tulisannya. Dari tulisan tersebut kita dapat melihat fenomena lintas zaman. Melihat peristiwa dari visualisasi tulisan dengan khas coret dan cara penyampaian peristiwa yang tertuang di dalam tulisan tersebut. “Karena peradaban harus ditulis”. Sebuah kutipan yang merepresentasikan arti penting dari sebuah tulisan.

Tulisan adalah cermin zaman, dari berjuta kata yang ada, pilihan dari anak zaman selalu jatuh pada kata-kata yang mewakili pola pikir dan metodenya dalam menilai segala peristiwa dan fenomena sekelilingnya. Meski sulit bagi sebuah tulisan untuk menggoreskan keadilan dan kebenaran di tengah realitas kehidupan dengan kultur yang rabun terhadapnya, tapi inilah dunia jurnalis. Dunia yang penuh dengan dialektika bahasa dan penyampaian yang kerap kali harus berhadapan dengan penilaian yang subjektif. Dengan keputusan akhir yang terkadang mengharuskannya untuk berdamai dengan nilai.

Dari segala sesuatu yang tertuang kedalam tulisan, setidaknya penilaian secara bijaksana dengan memperhitungkan segala pertimbangan-pertimbangan yang senantiasa mengintip dari “atas” terinternalisasikan pada setiap jiwa yang rindu akan ketajaman pisau yang terselip disetiap tulisan. Karena setiap manusia pasti ingin menjadi hakim dari segala sesuatu yang dianggap tidak memiliki mainstream yang sama dengannya.

Ada beberapa hal yang seyogyanya menjadi fokus perhatian terhadap sebuah tulisan. Pertama, sang penulis, yang menjadi pemilih kata dari setiap gores tulisan, dia adalah manusia yang juga memiliki mindset, mainstream, sikap, sifat, dan latar belakang historis yang menjadi alasan dari bagaimana cara dalam menggambarkan sesuatu dalam tulisannya. Kedua, kondisi ketika tulisan tersebut lahir, yang sangat mempengaruhi wacana dan konteks dari sebuah tulisan.

Dari semua yang tertulis kecuali wahyu yang murni dari Tuhan, patut kita sadari bahwa konteks dari semuanya hanyalah sebuah potret dari masa lalu-untuk tidak menyebutnya sebagai sesuatu yang basi-dan seakan selalu tunduk terhadap pemahaman dari pembaca. Peradaban harus senantiasa dikembangkan. Dan kontekstualisasi tulisan harus menjadi pertimbangan mutlak ketika jiwa-jiwa hakim merasuk kedalam sebuah nilai.

Lembaga Pers Mahasiswa sebagai wadah bagi para mahasiswa yang hendak mengeksplorasi potensi jurnalismenya, ibarat rumah kecil yang di dalamnya dipenuhi dengan cermin. Dari sana platform peradaban mahasiswa bermuara. Yang terkadang terlalu naif untuk mengaku sebagai bagian dari tolak ukur intelektualisme mahasiswa. Yang terkadang terlalu hina jika mengaku sebagai bagian dari pewarna wacana kampus-untuk tidak menyebut sebagai kelompok dominan-dan perangsang dinamika berdiskusi dengan wacana yang dilemparkannya. Dan terlalu sombong untuk menyebut produknya sebagai bentuk yang mewakili pola pikir pembacanya dalam proporsi kuantitatif.

LPM adalah tempat berkumpulnya para mahasiswa yang kritis, dan mau mengungkapkan kekritisannya melalui tulisan ataupun media. Disana juga adalah wadah bagi mahasiswa yang ingin mengasah kekritisannya terhadap segala fenomena, baik dengan disiplin ilmu yang mereka pilih maupun tidak, sosio-cultural, politik, ekonomi, hukum, HAM, ideologi, organisasi, strategi, dan taktik dengan semaksimal mungkin menelisiknya bersama modal holistikasi dan komprehensifitas yang dimiliki.

Diakui atau tidak oleh seluruh keluarga LPM SUKMA, bahwa nama SUKMA-Suara kritis mahasiswa-yang menempel di samping LPM adalah beban moril tersendiri yang di bebankan oleh para founding father LPM SUKMA kepada regenerasinya setelah aksioma sebagian orang yang menyebutkan bahwa LPM adalah wadah bagi mahasiswa yang memiliki nalar kritis. Beban yang terlanjur diterima ini seperti bayang-bayang yang senantiasa menggiringi setiap gerak LPM SUKMA dulu, kini, dan nanti. Dan seperti hal yang bijaksana, cermin zaman yang nampak kini patut mendapat penilaian atas konteks dan wacana yang digoreskan tanpa meninggalkan penilaian terhadap teks tersebut untuk setiap generasi mengambil pelajaran dan pengayaan terhadap penilaian tadi. Dengan proses sebagai langkah mutlak untuk tetap merangkul beban dari para founding father nya.

Setelah mengalami pasang surut dalam menjalankan organisasi, Alhamdulillah, akhirnya LPM SUKMA kembali mengeksplor tulisan-tulisannya-berupa tabloid-yang akan mewakili paradigma regenerasi pada zaman ini terhadap objek yang menjadi perhatiannya. Barangkali ini terlalu subjektif dan terkesan berlebihan, akan tetapi seberapapun penilaian eksternal yang didapat, akan menjadi evaluasi dan pembelajaran bagi kami dan regenerasi pemegang tonggak estafet cermin zaman selanjutnya.

3 Nopember 2010 M.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s