Bunga Rampai


Ketika awal masuk di dunia perguruan tinggi saya berpikir, hal apa yang akan menjadikan diri saya terlihat memiliki ciri khas seorang mahasiswa ?. Lebih-lebih saya membatin, apa sebenarnya perbedaan mahasiswa dengan siswa ?. Untuk sedikit mengobati penyakit menanya itu saya coba-coba jawab sendiri. Mungkin, dari segi berpakaian ketika melakukan proses belajar mengajar ciri bagi mahasiswa adalah pakaian bebas. Tidak seragam. Nah, untuk beda antara mahasiswa dan siswa, kemungkinan hanya identitas di atas kartu tanda mahasiswa belaka, berbeda ketika siswa, nama kartu tersebut kartu tanda pelajar.

Seiring berjalannya waktu mengarungi dunia perguruan tinggi, pertanyaan-pertanyaan naif tersebut sedikit demi sedikit terjawab oleh keadaan yang memang dicari-cari sendiri.

Potensi manusia dalam kesadaran adalah “tanya”. Bagi kita yang sadar akan perasaan yang menggiring kita pada suatu perubahan maka kita akan bertanya. Apa yang telah kita lakukan ? Apa yang sedang kita lakukan ? dan Apa yang akan terjadi kemudian ?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti apapun akan terbentur dengan kenyataan objektif. Ambillah contoh sederhana “ kita bertanya dalam hati ketika hendak melempar batu gunung ke dalam air. Apakah batu tersebut dapat mengapung di atas air ? dan kenyataannya ketika kita melemparnya batu gunung tersebut tenggelam”. Terkesan menyalahkan maupun membenarkan, pertanyaan akan senantiasa tunduk pada bukti yang nyata.

Secara singkat, ketika kita menjalani kehidupan tanpa potensi kesadaran berupa tanya dalam sanubari, lantas perubahan apa yang kita dapati manakala hikmah tak terpetik oleh akal budi ?, sedangkan ketika kita hanya hidup dalam tanya, maka kebenaran apa yang akan kita dapati ?. Pertanyaan dan proses kegiatan pembuktian adalah dua hal yang tidak dapat terpisahkan untuk menuju hidup paripurna.

Sebagai seorang yang tengah berstatus mahasiswa, saya benar-benar menginginkan bahwa bukan hanya secara keadaan mengemban identitas mahasiswa, namun juga secara kesadaran mengetahui dan menjalankan apa dan bagaimana sesungguhnya mahasiswa itu sendiri. Pertama-tama saya harus tahu sejarah mahasiswa Indonesia, karena sejarah adalah ibu kandung masa depan dan di sana jua lah pembentukan jati diri mahasiswa itu berawal.

Sejarah adalah sebuah proses dialektis. Ia terbentuk dari berbagai peristiwa yang pada saat bersamaan bersifat menghancurkan dan membangun kembali. Ia menghancurkan sebuah kemapanan untuk menghadirkan tatanan baru yang berbeda. Tatanan baru tersebut bisa jadi merupakan penyempurnaan atas tatanan lama-Reformasi-atau bahkan ia merupakan kondisi baru yang sama sekali berbeda dan bertolak belakang dengan yang terdahulu-Revolusi. Dialektika sejarah itu muncul sebagai reaksi atas banyaknya pertanyaan hidup yang dinamis.

Tuntutan hidup manusia yang terus berkembang mengharuskan inovasi, baik terhadap ide maupun produk-produk peradaban. Karena itu, proses kesejarahan akan terus berlangsung dalam lingkaran thesa-antithesa-sinthesa. Tak ada yang tetap kecuali perubahan (Heraclitus).

Jack Newfield menjelaskan: Mahasiswa adalah kelompok minoritas, dan para aktivis minoritas dalam populasi mahasiswa. Tetapi mereka memainkan peranan yang profetik. Mereka melihat jauh ke depan dan memikirkan apa yang tidak atau belum dipikirkan oleh masyarakat umumnya. Dalam visi mereka, tampak suatu kesalahan mendasar dalam masyarakat. Dan mereka menginginkan perubahan. Tidak sekedar perubahan-perubahan terhadap sesuatu yang tampil di permukaan, tetapi perubahan mendasar-fundamental. Mereka memikirkan suatu proses transformasi.

Sejarah Indonesia mencatat bagaimana pentingnya peran mahasiswa baik dalam proses menuju maupun pasca terbentuknya negara Indonesia. Mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam berbagai organisasi kemahasiswaan sangat menonjol dalam perubahan-perubahan besar di republik ini. Sejarah kemudian mencatat peran mereka dalam pembentukan nasionalisme Indonesia melalui Sumpah Pemuda (Youth Pledge) 1928, penculikan Soekarno-Hatta yang mendorong percepatan proklamasi kemerdekaan menjadi 17 Agustus 1945, peralihan Orde Lama ke Orde Baru tahun 1960-an akhir, dan peralihan dari Orde Baru ke Era Reformasi pada tahun 1998.

Oleh karena itu, tepat kiranya jika Indonesianis, Benedict Anderson menyebut bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pemudanya. Kehadiran pemudalah, kata Benedict Anderson, yang menciptakan momen sejarah Indonesia masa depan, yakni sejarah terbentuknya sebuah bangsa yang satu, merdeka dari ketertindasan kolonialisme (Revolusi Pemuda: 1988).

Sebagai batu tempa pembentukan para aktivis, organisasi kemahasiswaan memang tidak pernah tunggal dan terkotak-kotak berdasarkan keyakinan ideologisnya masing-masing. Setiap kelompok memiliki karakter sikap, pandangan, pemahaman, dan penilaian yang berbeda-beda tentang sejumlah permasalahan. Mereka juga berbeda dalam cita-cita tentang bentuk masyarakat ideal. Namun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa organisasi-organisasi kemahasiswaan berperan besar khususnya dalam penyiapan dan penyediaan kader-kader penerus bangsa, apapun keyakinan ideologis dan cita-cita idealnya.

Mereka lah yang memproduksi creative minority yang berperan sebagai agent of change dan agent of social control bagi masyarakat dan bangsanya. Berdasarkan latar belakang kesejarahan tersebut, sejak awal seorang mahasiswa sepatutnya menanamkan diri untuk menjadi sosok “mahasiswa sesungguhnya”.

Untuk menjadi mahasiswa sesungguhnya pertama-tama kita harus memahami terlebih dahulu apa yang menjadi ‘fitrah’ dari mahasiswa. Paling tidak ada empat predikat yang melekat pada mahasiswa, pertama insan akademis. Dalam konteks ini mahasiswa adalah insan pembelajar yang haus ilmu dan informasi bagi pengembangan rasio dan kepribadiannya. Sekaligus menjadi bagian yang mengusung dunia yang dinaungi nilai-nilai keilmiahan, moralitas dan independensi.

Kedua, kepemudaan. Mahasiswa adalah bagian dari pemuda dan pemuda adalah pemilik ‘darah muda’, yang mencari bentuk jati diri dan menterjemahkan dunianya terkadang tidak secara rasional melainkan emosional. Dalam kepemudaannya, mahasiswa adalah insan yang menginginkan perubahan, progresifitas, dan menciptakan dunianya sendiri yang berbeda dari ‘dunia buatan orang tua dan orang-orang yang kebetulan terdahulu’.

Ketiga, youth of the nation. Sebagai youth of the nation, ia merupakan potret masa depan bangsanya. Wajar bila suatu bangsa banyak menaruh harapan padanya. Sebagai youth of the nation, mahasiswa harus mempelajari permasalahan, dan keresahan bangsanya. Memahami kekuatan, kelemahan, ancaman, dan peluang yang dimiliki bangsanya. Lebih penting lagi, menjadi bagian orang yang mampu memberikan solusi-Problem solver-bukan beban-liability-bagi bangsanya.

Keempat, elit intelektual. Tidak sampai dari lima persen pemuda Indonesia mampu mengenyam pendidikan tinggi. Oleh karena itu, dengan sendirinya mahasiswa terbentuk menjadi ‘elit’ karena jumlahnya yang sedikit dan memperoleh kesempatan istimewa menempuh pendidikan tinggi. Sebagai elit intelektual, mahasiswa sudah sepatutnya menjadi ‘kompas’ yang menunjukkan arah bangsanya. Menjadi ‘lampu pijar’ yang menerangi lingkungan sekitarnya untuk membagi keberuntungan yang kebetulan diamanahkan padanya.

Secara hemat dapat dikatakan, menjadi mahasiswa sesungguhnya adalah berusaha dengan penuh keikhlasan dan kemauan yang keras untuk memenuhi keempat predikat yang melekat pada status mahasiswa di atas. Mahasiswa yang sesungguhnya bukanlah seorang yang hanya berstudy di perguruan tinggi yang datang untuk kuliah dan setelah itu pulang, menunggu kelulusan hingga -berharap- bekerja di perusahaan dan lembaga yang “wah”. Tapi, Mahasiswa sesungguhnya tidak puas dengan ilmu yang diperoleh di ruang kelas semata. Dia mencari ilmu dan membentuk kepribadiannya di perpustakaan, diskusi dan seminar, study club, organisasi kemahasiswaan intra dan ekstra, serta melakukan public/community service. Bahkan melakukan “gerakan-gerakan”, menciptakan prototype insan dan masyarakat masa depan.

Wallahu a’ lam bi shshawwab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s